1.548 Rumah di Pekalongan Masih Digenangi Banjir Rob

Kuntoro Tayubi    •    Senin, 11 Dec 2017 08:56 WIB
banjirbencana banjir
1.548 Rumah di Pekalongan Masih Digenangi Banjir Rob
Bupati Asip Kholbihi meninjau warga terdampak banjir rob di Kita Pekalongan, Jawa Tengah. Medcom.id /Kuntoro Tayubi

Pekalongan: Sebanyak 1.548 rumah di tiga desa di Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, masih tergenang banjir rob. Cuaca buruk disertai gelombang tinggi akibat badai Siklon Cempaka yang terjadi pada 1 Desember 2017 tak kunjung surut.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan Bambang Sujatmiko mengatakan ketinggian air masih sekitar 30 cm. Bahkan, di beberapa titik di daerah rendah, ketinggian air masih mencapai 60 cm.

“Banjir berasal dari air hujan dan rob yang besar. Sejak kejadian pada 1 Desember lalu, hingga saat ini sudah beberapa kali terjadi air pasang,” ujarnya, Senin, 11 Desember 2017.


Banjir rob menggenangi pemukiman warga Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Foto: Medcom.id /Kuntoro Tayubi

Tiga desa yang masih digenangi banjir antara lain adalah Desa Jeruksari dengan luas wilayah 217.444 hektare. Jumlah rumah yang digenangi sebanyak 1.270 dari 1.311 unit rumah warga di Desa Jeruksari. Jumlah penduduk terdampak sebanyak 5.820 dari 6.638 jiwa total penduduk.

Sedangkan Desa Mulyorejo (72.444 hektare), rumah terendam 123 dari 817 unit, warga terdampak 517 dari 2.953 jiwa total penduduk. Desa Tegaldowo dengan luas wilayah 96.200 hektare, rumah terendam sebanyak 155 dari 629 unit, penduduk terdampak 725 dari 3.183 jiwa.

“Tidak hanya rumah warga, banjir juga menggenangi Balai Desa, jalan umum, sekolah, masjid, musala dan tambak milik warga. Empat tanggul juga rusak dan limpas,” tambahnya.

(Klik: Kerugian Banjir Pekalongan Capai Rp1,4 Miliar)

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi mengaku warga tidak ingin direlokasi walau banjir rob sudah menjadi langgana. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, wilayahnya tak absen diserbu banjir.

“Warga tidak mau pindah, alasannya ini adalah tanah kelahiran. Sehingga, kami upayakan sebisa mungkin untuk mengatasinya. Misalnya, dengan pembuatan tanggul raksasa untuk menahan banjir dan juga perbaikan infrastruktur,” ujar Asip.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Pekalongan, menetapkan status tanggap darurat bencana banjir di wilayah Kecamatan Tirto, selama 62 hari, terhitung sejak 1 Desember 2017 hingga 31 Januari 2018, untuk wilayah Kecamatan Tirto pasca diterjang banjir yang luar biasa akibat badai Siklon Cempaka, 1 Desember 2017.

(Baca: Tanggap Darurat Banjir Rob Pekalongan Hingga Januari 2018)
 


(SUR)