Rektor IST Akprind Minta Maaf Terkait Kebohongan Dwi Hartanto

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 10 Oct 2017 16:55 WIB
Rektor IST Akprind Minta Maaf Terkait Kebohongan Dwi Hartanto
Rektor Institut Sains dan Teknologi Akademi Perindustrian (IST Akprind) Yogyakarta Amir Hamzah (tengah) -- MTVN/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Rektor Institut Sains dan Teknologi Akademi Perindustrian (IST Akprind) Yogyakarta Amir Hamzah meminta maaf terkait kebohongan yang dilakukan Dwi Hartanto. Bagaimanapun, Dwi tetap menjadi bagian alumni.

"Kami mohon maaf kepada publik atas kebohongan yang dilakukan Dwi Hartanto. Kebohongannya telah membuat malu dan kecewa," kata Amir di IST Akprind Yogyakarta, Selasa 10 Oktober 2017.

Menurut Amir, Dwi Hartanto adalah mahasiswa jurusan teknik informatika angkatan 2001 dan lulus pada 2005. Ia pun menyayangkan pengakuan Dwi sebagai lulusan Tokyo Institute of Technology di Jepang untuk gelar sarjananya.

"Kebohongan Dwi telah membuat malu bangsa Indonesia, menteri pendidikan, dan para ilmuwan," kata dia.

Sebelumnya, Dwi sempat mengaku memiliki kompetensi di bidang teknologi kedirgantaraan atau Aerospace Engineering, seperti teknologi roket, satelit, dan pesawat tempur. Ia pun disebut-sebut bisa menggantikan BJ Habibie.

(Baca: KBRI Den Haag Mencabut Penghargaan, Dwi Hartanto Minta Maaf)

Mahasiwa doktoral dari Indonesia yang menimba ilmu di Technische Universiteit (TU) Delft, Belanda ini juga mengatakan, bahwa Habibie pernah meminta bertemu dengan dirinya. Ia juga mengaku, bahwa Pemerintah Belanda menawarkan padanya agar mengganti kewarganegaraan.

Dengan semua kebohongan yang dibangunnya itu, Dwi mendapat penghargaan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag.

Belakangan, penghargaan tersebut dicabut dengan diterbitkannya Surat Keputusan Kepala Perwakilan RI untuk Kerajaan Belanda Nomor SK/029/KEPPRI/IX/2017 tentang Pencabutan Keputusan Kepala Perwakilan RI untuk Kerajaan Belanda SK/023/KEPPRI/VIII/2017 tentang penghargaan kepada Dwi Hartanto. Surat tersebut ditandatangani dan ditetapkan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBPP) I Gusti Agung Wesaka pada 15 September 2017.

(Baca: Habibie Ingatkan Ilmuwan Jangan Berbohong)

Kabar pencabutan penghargaan tersebut bersamaan dengan beredarnya pengakuan Dwi Hartanto terkait kebohongannya. Dalam sebuah pernyataan lima halaman yang ditandatangani dirinya sendiri di atas materai pada 7 Oktober 2017, ia menyampaikan permohonan maaf kepada pihak yang telah dirugikan atas tersebarnya informasi-informasi bohong tersebut terkait dengan pribadi, kompetensi dan pribadi dirinya.

Dwi Hartanto juga mengakui kekhilafannya karena cenderung melebih-lebihkan terkait latar belakangnya di bidang teknologi kedirgantaraan atau Aerospace Engineering. Ia pun mengaku, pertemuannya dengan Presiden RI ke-3, BJ Habibie, adalah atas permintaanya.

 
(NIN)