Ditemukan Kasus Difteri, Semarang Belum Berstatus KLB

Mustholih    •    Kamis, 07 Dec 2017 13:31 WIB
klb difteri
Ditemukan Kasus Difteri, Semarang Belum Berstatus KLB
Seorang anak mendapatkan suntikan Td (Tetanus-difteri) di SD Islam Terpadu Malang, Jawa Timur - ANT/Ari Bowo Sucipto

Semarang: Dinas Kesehatan Kota Semarang membantah masuk dalam daftar wilayah kejadian luar biasa (KLB) difteri. Meski ditemukan satu warga dinyatakan positif difteri, namun status KLB tidak sampai ditetapkan untuk Kota Semarang.

"Semarang bukan daerah yang ditetapkan KLB. Tapi tahun ini memang ada satu kasus difteri di Kota Semarang," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono, kepada Medcom.id, Semarang, Jateng, Kamis, 7 Desember 2017.

Menurut Widoyono, kasus difteri memang setiap tahun ditemukan di Kota Semarang. Jumlah kasus difteri dari tahun ke tahun cenderung fluktuatif. "Kita setiap tahun ada kasus. 2015 tidak ada kasus, 2016 ada dua kasus, dan 2017 ada satu kasus," jelas Widoyono.

Meski begitu, Widoyono menegaskan difteri tergolong bukan penyakit mematikan seperti ramai diberitakan belakangan. "Angka kematiannya 5 sampai 10 persen (dari jumlah 100 persen penderita difteri). Jadi tidak tinggi sekali," tegas Widoyono.

Widoyono menambahkan penyakit difteri cenderung menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun hingga remaja. Tapi, untuk kasus di Kota Semarang, penyakit tersebut menyerang satu warga usia dewasa. "Warga yang kena difteri kemarin usia 21 tahun," ungkap Widoyono.

Imunisasi DPT-HB-Hib merupakan salah satu langkah antisipasi mencegah kasus difteri mewabah. Menurut Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Jateng, Dokter Tatik Muharyati,imunisasi tersebut diberikan agar anak memiliki kekebalan, antara lain, terhadap infeksi difteri dan hepatitis.

Menurut Tatik, target imunisasi DPT-HB-Hib pada bayi dan bayi usia dua tahun (baduta) di suatu wilayah harus mencakup 95 persen dari jumlah keseluruhan mereka. Sedangkan cakupan imuniasi pada bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) pada kelas 1, 2, dan 3 harus mencapai minimal 98 persen. "Cakupan di jateng DPT-HB-Hib adalah 98.5 persen dan cakupan BIAS adakah 99.43 persen. Artinya melebihi target," jelas Tatik.

Meski begitu, kata Tatik, potensi kasus difteri disebut bisa terjadi di 35 Kabupaten atau Kota se-Jateng.

"Begitu kita nyatakan ada kasus difteri, kita berikan imunisasi di sekitar tempat tinggal di mana penderita itu ada. Sudah atau belum pernah dilakukan imunisasi tetap kita berikan imunisasi. Itu pencegahan supaya tidak melebar ke mana-mana," tegas Tatik.



(ALB)