Kerugian Negara Akibat Korupsi Capai Rp205 Triliun

Patricia Vicka    •    Jumat, 14 Oct 2016 18:11 WIB
seminar korupsi
Kerugian Negara Akibat Korupsi Capai Rp205 Triliun
Suasana konferensi pers ICSEAS di Gedung Pasca Sarjana UGM Jumat (14/10/2016). Foto: Humas UGM

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Sejawaran asal Inggris Prof. Peter Carey mengatakan dua tantangan terbesar yang tengah dihadapi Indonesia saat ini adalah korupsi dan politisasi agama. Sepanjang 2001-2015, Indonesia telah menderita kerugian akibat korupsi yang diperkirakan mencapai Rp 205 triliun. 

"Namun, hanya 11 persen atau Rp 22 triliun telah diperoleh kembali melalui proses peradilan," kata Peter Carey, dalam keterangan persnya, di Yogyakarta, Jumat (14/10/2016).

Menurutnya, jumlah yang hilang ini setara dengan seluruh anggaran untuk pembangunan 871 kilometer jalan tol dan jalan baru. Korupsi terbesar menurutnya terdapat di pemerintahan dan korporasi.

Langkah yang bisa diambil untuk menekan perilaku perampasan uang negara ini, kata dia, adalah dengan memberantas mentalitas permisif korupsi di lingkungan birokrasi dan perusahaan serta di masyarakat.

Inggris pada abad ke-18 pernah mengalami situasi korupsi seperti yang dialami Indonesia saat ini. "Pemerintah Inggris saat itu berupaya menciptakan kondisi pemerintahan yang efektif dengan melakukan administrasi modern agar menghindari praktik korupsi," jelasnya.

Sebanyak 130 ilmuwan sosial dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara mengikuti konferensi internasional studi Asia Tenggara atau International Conference on Southeast Asia Studies (ICSEAS) di Kampus UGM Yogyakarta Jumat 14 Oktober 2016. 

Konfrenesi yang digagas oleh  Badan Penerbit dan Publikasi (BPP) UGM ini membahas tujuh topik utama di antaranya tentang demokrasi, ketahanan pangan, kemiskinan, dan kesejahteraan.

Ketua ICSEAS Pujo Semedi mengatakan konferensi kali ini menawarkan ide dan membuka keragaman alternatif riset yang dapat terus dikembangkan para peneliti di Asia Tenggara. 

Menurut Pujo, perjalanan panjang Asia Tenggara yang melewati transisi dari masa kolonial hingga bebas dari penjajahan menawarkan ragam pengetahuan yang dapat digali lebih lanjut.

(UWA)