Menisik Alasan Islam Aboge Iduladha Hari Ini

   •    Rabu, 14 Sep 2016 14:17 WIB
idul adha 2016
Menisik Alasan Islam Aboge Iduladha Hari Ini
Jamaah Alif Rebo Wage (Aboge) saat salat Idul Fitri di Masjid Al Barokah Leces, Probolinggo, Jawa Timur, Minggu (19/7). (Ant/Moch Asim)

Metrotvnews.com, Purbalingga: Sekitar 200 pengikut Islam Aboge (Alif Rebo Wage) di Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, melaksanakan Salat Iduladha, Rabu, 14 September. Salat dipusatkan di Masjid Sayyed Kuning di desa tersebut.

Imam sekaligus khatib salat Iduladha, Kiai Maksudi, menjelaskan, penentuan hari raya kurban umat Aboge berlandaskan pada kalender Sultan Agung Raja Mataram Islam. 

"Hal ini berdasarkan hitungan kalender yang telah ditetapkan sejak zaman Sultan Agung dari Kerajaan Mataram sekitar tahun 1288 dan masih diyakini hingga sekarang, karena Aboge merupakan suatu akidah," katanya seperti dikutip Antara.

Berdasarkan hitungan tersebut, kata dia, 1 Muharam 1437 Hijriah jatuh pada hari Jumat, yang selanjutnya diturunkan untuk menentukan tanggal 1 Zulhijah.

Dalam hal ini, kata dia, tanggal 1 Zulhijah 1437 Hijriah jatuh pada hari Senin, 5 September. "Oleh karena Hari Raya Iduladha dirayakan setiap tanggal 10 Zulhijah, berarti Aboge merayakannya pada tanggal 14 September," jelasnya.

Baca: Mempertahankan Tradisi Mataram Islam saat Iduladha

Seperti umat Islam lainnya, Masjid Sayyid Kuning juga memotong hewan kurban. Sebanyak sembilan ekor kambing disembelih. Bedanya, khotbah salat Iduladha disampaikan dalam bahasa Jawa.


Video salat Idulfitri jemaah Aboge, pada 8 Juli 2016.

Salah seorang generasi muda Aboge, Lutfilatul Aziz mengatakan Islam Aboge merupakan suatu keyakinan yang tumbuh dari kepribadian masyarakat atau Kejawen (Jawa). Sehingga, tidak melakukan perekrutan dalam upaya mencari jemaah.

"Itu keyakinan pribadi masing-masing. Biasanya kalau Kejawennya kuat akan ikut Aboge," kata putra Maksudi itu.

Sebagai mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dia mengaku biasa saja dalam menjalankan keyakinannya di kampus. Dosen maupun mahasiswa UIN lainnya telah tahu tentang Aboge sehingga mereka tidak mempermasalahkannya.

Iduladha ala Mataram

Sultan Agung merupakan raja keempat Kesultanan Mataram. Dia merupakan putra sulung Mas Jolang, raja kedua Mataram, atau cucu dari Sutawijaya alias Panembahan Senopati, pendiri Mataram.

Di masa raja bernama kecil Mas Rangsangpada itulah, Mataram mengalami masa keemasan. Wilayahnya meliputi Jawa dan Madura. Sultan Agung Hanyokrokusumo yang memeluk Islam lantas membuat sistem penanggalan yang memadukan Jawa dan Hijriah.


Abdi Dalem Keraton Kasunanan Solo mengarak gunungan dalam Grebeg Besar, Selasa (13/9/2016). (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Kesultanan Mataram runtuh sejak kedatangan VOC. Puncaknya, pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Solo pada 13 Februari 1755.

Meski pecah, nilai-nilai keyakinan termasuk penanggalan Sultan Agung masih dipegang hingga kini.

Tetapi, berbeda dengan Islam Aboge di Purbalingga, Keraton Solo dan Yogyakarta justru menggelar Grebeg Besar pada Selasa, 13 September 2016. Grebeg Besar merupakan tradisi yang digelar tiap bertepatan dengan Iduladha.


(SAN)