Tolak Taksi Daring, Angkutan Umum di Solo Ancam Mogok Massal

Pythag Kurniati    •    Jumat, 20 Oct 2017 16:51 WIB
taksi onlinetransportasi berbasis aplikasi
Tolak Taksi Daring, Angkutan Umum di Solo Ancam Mogok Massal
Ilustrasi angkutan kota mogok massal. Foto: Antara/Didik Suhartono

Metrotvnews.com, Solo: Ratusan pengemudi angkutan umum di Kota Solo mengancam mogok massal dan berdemonstrasi pada Senin, 30 Oktober 2017. Mereka tetap menolak keberadaan taksi daring yang dituding ilegal, walaupun aturan baru dari Menteri Perhubungan segera berlaku.

“Kami menolak operasional angkutan orang berbasis aplikasi,” ungkap Ketua Barisan Anti Angkutan Ilegal (Bantai) Solo Raya, Pramono, Jumat 20 Oktober 2017.

Revisi Permenhub Nomor 26 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek bakal berlaku mulai 1 November 2017. Namun, mereka menolak sejumlah poin yang telah diungkap ke publik

“Dalam revisi tersebut ada yang berbunyi kuota taksi online ditentukan oleh Dirjen serta Gubernur,” paparnya.

Padahal, kata dia, angkutan pelat hitam berbasis daring 'ilegal' sudah banyak beroperasi. Mereka mendesak agar pemerintah tidak memberikan kuota pada taksi daring.

Lebih-lebih kuota taksi pelat kuning atau angkutan konvensional di Kota Solo sudah cukup mengakomodir permintaan masyarakat Solo. “Tidak perlu ada (taksi) pelat hitam,” jelasnya.

Mogok massal adalah bentuk protes masih beroperasinya taksi daring di Kota Solo. Demonstrasi dan mogok massal bakal diikuti oleh ratusan orang yang terdiri dari pengemudi taksi konvensional, pengemudi becak, pengemudi angkutan serta tukang ojek konvensional.

Rencananya, aksi dimulai dari Stadion Manahan menuju Balai Kota Surakarta. Mereka tidak akan melayani penumpang pada hari tersebut.

Kabid Angkutan Dinas Perhubungan Taufiq Muhammad menyarankan agar penyampaian aspirasi para pengemudi angkutan umum tidak mengganggu pelayanan. Ia pun meminta aksi mogok massal dipikirkan ulang.

“Pelayanan aspirasi bisa dilakukan tanpa harus menghentikan pelayanan,” kata dia.


(SUR)