Nasib Pesepeda Usai Penutupan Perlintasan Sebidang

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 03 Nov 2017 10:57 WIB
jalur kereta api
Nasib Pesepeda Usai Penutupan Perlintasan Sebidang
Pesepeda di Yogyakarta tetap memilih melintasi jalan di perlintasan kereta api di bawah Jembatan Janti meski sudah dipagar -- MTVN/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Seorang pria tampak mengernyitkan dahi saat berada di bawah Jembatan Janti, Yogyakarta. Ekspresi pria 40 tahun itu menyiratkan keasingan dengan penutupan perlintasan sebidang di jalan tersebut.

Bayu Endro Notonegoro kemudian mengangkat sepedanya melintasi rel kereta api yang telah dipalang pagar besi. Setelah melewati pagar pertama, ia menengok kanan-kiri, kemudian kembali mendorong sepedanya dan mengangkatnya lagi untuk melintasi pagar kedua.

Bagi warga Gedongkuning, Yogyakarta ini, penutupan akses jalan itu sangat mengganggu. Pasalnya, jalan di bawah Jembatan Janti merupakan akses utama yang selalu dilintasi pesepeda.

"Bersepeda lewat sini jadi tidak nyaman," kata Bayu kepada Metrotvnews.com, Kamis 2 November 2017.

(Baca: Warga Kritik Penutupan Perlintasan Sebidang yang Tanpa Persiapan)

Menurut Bayu, dirinya mulai aktif bersepeda beberapa tahun terakhir. Dari rumahnya di Jalan Gedongkuning Selatan, ia selalu bersepeda ke rumah keduanya di Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.

Bagi Bayu, bersepeda menjadi terapi setelah terkena stroke beberapa waktu lalu. Ia merasa, badan menjadi lebih bugar dengan bersepeda.

"Kalau lewat atas jembatan layang, siang panas sangat terik dan jalannya menanjak. Kalau lewat bawah enak, nyaman, sebelum dipagar ini," kata dia.

Bayu termasuk salah satu warga yang menolak penutupan akses jalan di bawah Jembatan Janti. Apalagi jika alasannya untuk mencegah kecelakaan. Ia meminta adanya pengkajian kembali terkait kebijakan itu.

"Penutupan (jalan di bawah Jembatan Janti) dengan alasan mengurangi risiko kecelakaan itu seperti cerita orang tua kepada anaknya sebagai pengantar tidur," ungkapnya.

(Baca: Perlintasan Ditutup, Sebagian Warga Yogyakarta Kecele)

Senada, Wahyono, 65, mengatakan, sudah 14 tahun selalu bersepeda dan melewati jalur di bawah Jembatan Janti. Selama itu, baru kali ini akses jalan ditutup pagar.

Namun, pagar besi nyatanya tak menghentikan laju roda warga Maguwoharjo, Kabupaten Sleman ini. Di usianya yang lebih setengah abad, Wahyono mengangkat sepedanya melewati pagar.

"Saya sudah tua. Kalau lewat jembatan layang, tanjakannya berat, tidak kuat jalan naik," katanya.

Tak hanya Bayu dan Wahyono, pesepeda lain juga memilih melintasi akses jalan yang sudah dipagar itu. Dari pelajar hingga warga yang sekadar ingin mencari pakan ternak, masih melintasi jalan itu.

Anggota Komunitas Pitpaganda Jamaludin Latif menuturkan, pagar yang menutup akses jalan itu kian menyingkirkan pesepeda. Menurutnya, sudah sejak lama pesepeda di Yogyakarta kian terpinggirkan.

Banyak jalur khusus pesepeda yang dirampas pengendara sepeda motor. "Kasus (penutupan jalan di bawah jembatan) Janti ini yang terbaru," ungkapnya.

Tak cuma pesepeda, sejumlah pedagang gerobak yang biasanya melintasi jalur itu akhirnya memilih melewati jembatan layang. Mereka harus melintas di atas jembatan Janti di bawah `ancaman` kendaraan yang biasanya melaju dengan kecepatan tinggi.

Jamaludin berharap, pemerintah daerah menbuat jalur khusus pesepeda. Sebab, pesepeda juga memiliki hak berkendara dengan nyaman.


(NIN)