Pelarangan Cantrang tak Berdampak Bagi Nelayan Gunungkidul

Ahmad Mustaqim    •    Kamis, 04 Jan 2018 14:23 WIB
nelayan
Pelarangan Cantrang tak Berdampak Bagi Nelayan Gunungkidul
Ilustrasi nelayan/ANT/Ampelsa

Gunungkidul: Kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan soal pelarangan penggunaan alat tangkap cantrang tak berdampak pada aktivitas nelayan di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Sebab, ribuan nelayan di wilayah tersebut tak memakai cantrang. 

"Nelayan di sini (Gunungkidul) masih memakai alat tangkap tradisional. Jadi (kebijakan pelarangan penggunaan cantrang) tidak berpengaruh, bahkan di DIY," kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (DPC HNSI) Gunungkidul, Rujimantoro saat dihubungi Medcom.id pada Kamis, 4 Januari 2018. 

Ia mengatakan, nelayan di kawasan Gunungkidul masih berkategori kelompok kecil. Sebab, alat tangkap ikan masih memakai alat seperti pancing dan jala. Bahkan, kapal nelayan untuk melaut pun tidak berukuran besar. 

"Ukuran kapal nelayan di Gunungkidul maksimal 30 grosston. Itu pun hanya bisa di (Pantai) Sadeng. (Nelayan) yang banyak pakai kapal jungkung," katanya. 

Menurut dia, hal penting bagi nelayan di pesisir selatan Yogyakarta saat ini adalah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Khusus (SPBK) Nelayan di pelabuhan. Pasalnya, nelayan masih harus membeli bahan bakar dengan jarak puluhan kilometer untuk bisa melaut. 

Pemerintah, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan pernah menyatakan akan berupaya membantu nelayan agar bisa memperoleh bahan bakar dengan terjangkau. Hal itu disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat peringatan hari ulang tahun ke 44 Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) di Pantai Depok Bantul pada 21 Mei 2017. 

Selain itu, Menteri Susi juga sempat berujar bakal berkoordinasi dengan kementerian keuangan perihal sulitnya kredit usaha rakyat (KUR) bagi nelayan. 

Ketua Paguyuban Nelayan Pelabuhan Pantai Sadeng, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Sarpan, mengatakan, nelayan Gunungkidul harus menempuh puluhan kilometer untuk bisa mendapat bahan bakar solar. Lokasi SPBU itu berada Kecamatan Karangmojo, atau 20 kilometer dari pesisir pantai Selatan Gunungkidul. 

Sekali melaut, nelayan bisa menghabiskan 650 liter solar dalam waktu tujuh hari. Menurut dia, pernah ada SPBK pada 2013 lalu. "Tapi SPBK itu sekarang sudah tak berfungsi," ujarnya. 


(ALB)