Pedagang Bendera Dilarang Berjualan di Trotoar

Patricia Vicka    •    Kamis, 10 Aug 2017 16:07 WIB
hut ri
Pedagang Bendera Dilarang Berjualan di Trotoar
Salah seorang pedagang bendera di Jembatan Juminahan. --MTVNVicka--

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Pemerintah Kota Yogyakarta melarang penjual bendera musiman berdagang di trotoar. Jelang hari kemerdekaan RI, pedagang musiman mulai menjamur di sejumlah tempat. Mereka banyak memanfaatkan trotoar pedestrian untuk menjajakan barang dagangannya. 

Kepala Seksi Operasi Satpol PP Kota Yogyakarta Budi Santoso  menjelaskan, pedagang tak bisa sembarang berjualan tempat umum.  Hal itu sesuai dengan Peraturan Daerah No. 26/2002 tentang Pedagang Kaki Lima dan Perwal Yogyakarta No. 45/2007 yang berisi aturan lokasi yang bisa digunakan untuk pedagang kaki lima. 

"Trotoar itukan tempat untuk jalan bukan berjualan. Taman juga enggak boleh," katanya kepada Metrotvnews.com di Yogyakarta, Kamis 10 Agustus 2017.

Ia menyarankan para PKL untuk berjualan di persil pribadi atau kios resmi. Sat pol PP telah melakukan razia secara intensif dibeberapa ruas jalan yang biasa dipakai pedagang membuka lapak. 

"Kami sudah tertibkan lima pedagang di Jalan Kusumanegara dan Ipda Tut Harsono pekan lalu . Kami ingatkan, trotoar itu fungsinya untuk pejalan kaki, bukan untuk berjualan jenis apapun," tegasnya. 

Kelima pedagang tersebut tengah diproses tindak pidana ringan di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Kedepan pihaknya akan terus melakukan penertiban.

Salah seorang pedagang bendera Agil Prasetyo mengatakan, ia terpaksa menjual bendera di trotoar. Sebab tak ada tempat untuk berjualan. "Saya berjualan bendera kalau mau 17-an saja. Kemarin-kemarin cuma buka toko kecil di rumah," kata pria yang berdagang di jalan Juminahan ini.

Ia enggan memindahkan jualannya dan pasrah jika ditertibkan oleh Satpol PP.
Sebab, ia tak mampu membayar tempat sewa tempat. "Ndak ada yang mau menyewakan hanya untuk satu bulan. Nanti harga jadi mahal," kata dia.

Pantauan Metrotvnews.com para pedagang bendera musiman menggelar lapak diseluruh bagian trotoar. Sehingga warga terpaksa berjalan di pinggir jalan. Dalam satu wilayah para pedagang biasa berjualan bersama-sama.



(ALB)