Perguruan Tinggi di Yogya Dianggap Kurang Berkontribusi pada Pembangunan

Ahmad Mustaqim    •    Senin, 15 May 2017 18:10 WIB
pembangunan
Perguruan Tinggi di Yogya Dianggap Kurang Berkontribusi pada Pembangunan
Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada (PSKK UGM) Agus Heruanto Hadna (kanan) dan Manajer SDM dan Ekonomi PSKK UGM, Umi Listyaningsih (tengah). (MTVN-Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada (PSKK UGM) Yogyakarta, Agus Heruanto Hadna mengatakan banyaknya perguruan tinggi di Yogya tak cukup mampu memberikan dampak positif pada pembangunan. Sebab, angka kemiskinan di Yogya meningkat dan lebih tinggi dibanding nasional.

Data Badan Pusat Statistik DIY yang dirilis pada Januari 2017, menyebutkan jumlah penduduk miskin pada 2016 ada sebanyak 488,83 juta jiwa. Angka ini disebut meningkat lantaran jumlah penduduk miskin di DIY pada 2015 sebanyak 485,56 ribu jiwa.

Bahkan, angka ketimpangan Rasio Gini pada 2016 berada di angka 0,425, atau meningkat 0,42 dari tahun sebelumnya. "Setidaknya ada 150 perguruan tinggi di Yogyakarta. Namun peranannya selama ini belum terlihat. Idiom 'Menara Gading' masih melekat di dunia pendidikan," kata Agus di PSKK UGM dalam konferensi pers jelang peringatan HUT ke 44 PSKK pada Senin, 15 Mei 2017.

Agus tidak menampik pesatnya pembangunan fisik di Yogyakarta. Mulai pembangunan infrastruktur, hotel, mal, apartemen, hingga pusat perekonomian lain.

Di balik itu, angka kemiskinan di DIY lebih tinggi dari nasional. Jika kemiskinan di DIY di angka 11,2 persen, angka kemiskinan nasional berada di angka 10,36 persen.

"Pembangunan (seperti hotel, mal, dan apartemen) di Yogyakarta tak banyak berkontribusi signifikan bagi masyarakat. Bahkan Yogyakarta berada di urutan kedua dalam hal ketimpangan sosial setelah Papua," sebutnya.

Berangkat dari data di atas, Agus menyatakan perguruan tinggi di Yogyakarta sudah sepantasnya meningkatkan peran pada pembangunan. Pembangunan itu harus sinergi dengan pemerintah, masyarakat, dan korporasi.

Peran yang bisa diambil perguruan tinggi bisa dengan menghasilkan hasil-hasil pemikiran praktis guna mengatasi permasalahan di masyarakat.

"Dengan bersinergi diharapkan persoalan-persoalan itu bisa diatasi, utamanya saat di mana Yogyakarta sedang mengalami perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang sangat cepat seperti sekarang," jelasnya.

Manajer SDM dan Ekonomi PSKK UGM Umi Listyaningsih menambahkan pembangunan di Yogyakarta semestinya tidak hanya pada tataran ekonomi serta informasi dan teknologi. Menurut dia, sisi lain yang semestinya banyak dilibatkan dalam pembangunan yakni faktor budaya.

"Keraton menjadi salah satu aspek penting pembangunan di Yogyakarta. Dalam arti, hampir setiap suku ada di Yogyakarta. Misalnya apabila ada konflik, Keraton bisa menjadi jalan menyelesaikan permasalahan," kata dia.


(SAN)