Semangat Tatik Pompa Kepercayaan Diri Penyandang Difabel

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 01 Nov 2016 10:57 WIB
kaum difabel
Semangat Tatik Pompa Kepercayaan Diri Penyandang Difabel
Tatik Sukilah saat menggendong putranya, Erry Susilo usai menjumput sekolah dengan menyewa ojek. (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Tak semua orang bisa mensyukuri kelebihan serta kekurangan kehidupan. Erry Susilo, 16, siswa SMA 11 Yogyakarta, punya cara berbeda memaknai hidup. Dia terus berupaya meraih prestasi dengan keterbatasan diri.

Erry menyandang difabel sejak kelas tiga SD Lempuyangan, Yogyakarta. Bagian tubuh yang bisa digeraknya hanya tangan dan kepala, itupun tak sempurna.

Berbagai macam jalan telah ditempuh ibunda Erry, Tatik Sukilah, 47, untuk pengobatan. Takdir berkata lain, Erry tak sembuh dan harus diantar-jemput sekolah.

Tatik mengatakan, sejak Erry tak bisa berjalan, ia selalu mengantarnya ke sekolah. Bahkan sejak kelas tiga SD. "Ibaratnya, kaki saya menjadi kaki Erry," ujarnya saat ditemui Metrotvnews.com, di kediamannya di Ledoktukangan DN II/143 RT8/RW2 Kelurahan Tegalpanggung, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Selasa (1/11/2016).

Baca: Jatuh saat SD, Erry tak Bisa Jalan hingga Remaja

Tatik sama sekali tak perlu merasa malu dengan kondisi Erry. Kepercayaan diri itu menular ke Erry, yang terus semangat sekolah.

Mulanya dia mengantarkan Erry ke SD Lempuyangan dengan menggendong. Namun, sejak Erry duduk di SMP 15 Yogyakarta, Tatik memutuskan menyewa ojek untuk mengantar anaknya.

Kendati menyewa ojek pun, Tatik harus tetap menyertainya dengan membonceng di belakang. Meskipun, pernah sesekali ia menggendong anaknya dari sekolah yang berjarak sekitar 2,5 kilometer.

"Tapi istirahatnya berkali-kali. Kan jaraknya jauh, ya, dari sekolah ke kontrakan. Waktu di SMA ini, saya pernah mengantarnya dengan menggendong karena sudah kepepet, hampir satu jam baru sampai sekolahan," ungkapnya.

Untuk sewa ojek, Tatik harus mengeluarkan biaya Rp25 ribu per hari. Artinya, buruh cuci dan pedagang kue itu harus mengeluarkan biaya Rp650 ribu per bulan untuk sewa ojek.

Hingga Erry duduk di kelas XII IPS SMA 11 Yogyakarta, Tatik tetap senantiasa setia mengantar anaknya. Beruntung, Tatik tak harus menunggui Erry karena teman-temannya di sekolah banyak membantu.

Erry mengatakan, banyak temannya yang membantu aktivitasnya di sekolah. Mulai keperluan referensi buku di perpustakaan, ikut olahraga meski dengan kursi roda, serta ketika beraktivitas di waktu istirahat. "Teman banyak yang bantu. Saya semangat belajar," ujarnya singkat.

Dengan segala keterbatasannya, Erry mengaku ingin terus belajar hingga ke perguruan tinggi. Ia berharap bisa melanjutkan studi di Unibersitas Gadjah Mada (UGM) setelah lulus dari SMA 11 Yogyakarta.

"Saya bercita-cita menjadi pengusaha bus. Doakan bisa lanjut kuliah ya," kata Erry sambil terbaring lemas.


(SAN)