Anggaran Kebencanaan Jepara Dipangkas Rp600 Juta

Rhobi Shani    •    Rabu, 23 Nov 2016 12:10 WIB
bencana
Anggaran Kebencanaan Jepara Dipangkas Rp600 Juta
Foto ilustrasi. (Metrotvnews.com/Rhobi Shani)

Metrotvnews.com, Jepara: Belum lagi habis tahun, anggaran kebencanaan di Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jepara telah habis. Padahal, ancaman bencana makin mengintai di akhir tahun.

Kepala BPBD Kabupaten Jepara Lulus Suprayetno menyebut, dana kebencanaan telah habis terserap. Pihaknya hanya menggantungkan dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bila ada bencana di akhir tahun.

Pada kondisi ini, Pemerintah Kabupaten Jepara malah memangkas anggaran bencana pada APBD 2017. Dari semula Rp2,6 miliar pada 2016 menjadi hanya Rp2 miliar tahun depan.

Baca: Enam Rumah di Jepara Tertimpa Longsor

"Jelas kurang dan minim. Mengingat Kabupaten Jepara masuk dalam 100 besar kabupaten dan kota se-Indonesia yang memiliki risiko tinggi bencana,” ujar Lulus, Rabu (23/11/2016).

Sudah begitu, anggaran tidak bisa lekas digunakan bila ada bencana pada bulan Januari. Biasanya, Lulus mengklaim, jajarannya mengadakan iuran untuk penanggulangan bencana.

"Kami urunan dulu. Bagi yang tidak tahu sih dikira BPBD punya uang banyak," kata Lulus.

Disampaikan Lulus, dari dana kebencanaan Rp2 miliar, alokasi anggaran tanggap darurat hanya Rp200 juta. Itu termasuk untuk belanja logistik guna pemulihan pasca-bencana.

Baca: 17 Desa di Kabupaten Jepara Terancam Longsor
 
Berkurangnya alokasi anggaran kebencanaan ini, ditambahkan Lulus, lantaran adanya rasionalisasi. Sehingga, seluruh pos anggaran kebencanaan mengalami pengurangan.
 
“Salah satunya pengurangan belanja modal yang ditarik untuk penyelenggaraan pilkada,” kata Lulus.
 
Minimnya anggaran kebencanaan tahun 2017, Lulus akan fokus pada pembentukan masyarakat tangguh tanggap bencana. Jika sewaktu-waktu terjadi bencana, masyarakat sudah siap tanpa harus menunggu bantuan pemerintah.

Baca: Tanggul Ambrol, Puluhan Hektare Sawah di Jepara Terancam Banjir
 
“Terutama untuk masyarakat yang tinggal di wilayah berisiko bencana tinggi, seperti bencana banjir, tanah longsor, puting beliung, dan ancaman abrasi,” pungkas Lulus.


(SAN)