Polisi Cokok Pengedar 155 Ribu Pil Psikotropika di Pekalongan

Kuntoro Tayubi    •    Senin, 20 Nov 2017 16:26 WIB
narkobaobat berbahaya
Polisi Cokok Pengedar 155 Ribu Pil Psikotropika di Pekalongan
Kapolres AKBP Wawan Kurniawan saat gelar kasus di halaman Mapolres Pekalongan, Jawa Tengah. Foto: Metrotvnews.com / Kuntoro Tayubi

Pekalongan: Maruli Arif alias Ruli, 35, warga Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, diringkus tim gabungan Polres Pekalongan. Dia dicokok lantaran menjadi pengedar psikotropika jenis Hexymer, Dextro dan Trihex.

Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan mengatakan penangkapan tersangka berawal dari hasil penyelidikan terhadap tersangka yang dicurigai telah mengedarkan obat-obatan sediaan farmasi tanpa memiliki izin.

Awalnya, petugas memergoki tersangka saat betransaksi di pinggir jalan di Desa Dadirejo, Kecamatan Tirto. Saat petugas menggeledah tersangka, didapati obat psikotropika jenis Hexymer sebanyak 1.000 butir berikut hasil transaksi sebanyak Rp800 ribu.

“Kemudian kami geledah rumah tersangka, dan dari hasil penggledahan tersebut, total barang bukti psikotropika yang kami sita berjumlah 154 ribu butir,” katanya, Senin, 20 November 2017.

Wawan merinci, barang bukti yang disita antara lain adalah 90 botol Hexymer masing-masing berisi 1.000 butir, 23 paket plastik Dextro masing-masing berisi 1.000 butir dan 41 paket plastik Trihex masing-masing berisi 1000 butir.

“Kami juga sita uang hasil penjualan selama tiga hari sebanyak Rp12,2 juta. Dari pengakuan tersangka, dia mendapatkan barang tersebut dari Jakarta dan sudah setahun ini diedarkan di wilayah Pekalongan dan sekitarnya,” tambahnya.

Sementara itu, menurut keterangan Maruli, dia menjual psikotropika tersebut per 1.000 butir, dengan harga Rp800 ribu untuk Hexymer, Rp550 ribu untuk Dextro dan Rp450 ribu untuk Trihex.

Wawan menyebut transaksi biasanya berlangsung lewat telepon. Tersangka kemudian langsung mengantarkan barang ke pembeli. "Dari hasil transaksi tersebut, saya dapat keuntungan Rp300 ribu,” ujarnya.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 197 sub pasal 196 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dengan ancaman hukuman kurungan maksimal 10 tahun penjara atau denda sebesar Rp 1,5 miliar.


(SUR)