Hasil Panen Surplus, Pemkab Sleman Tolak Beras Impor

Patricia Vicka    •    Sabtu, 03 Mar 2018 13:01 WIB
berasimpor berasberas impor
Hasil Panen Surplus, Pemkab Sleman Tolak Beras Impor
Ilustrasi.

Yogyakarta: Para petani di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sudah mulai panen padi. Hasil panen pada Januari-Februari saja mencapai 26,892 ton.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Kabupaten Sleman Heru Saptono menegaskan Pemkab tidak membutuhkan beras impor, lantaran stok padi di gudang surplus.

“Jadi hingga Februari 2018, terdapat kelebihan beras(surplus) sebanyak 18,474 ton di wilayah Sleman,” kata Heru saat dihubungi, Jumat, 2 Maret 2017. Sembari menegaskan, para petani juga meminta bupati agar beras impor tidak masuk ke Sleman.

Meski begitu, pihaknya tak bisa mencegah beras impor masuk ke wilayahnya. Sebab mekanisme penyaluran beras impor dilakukan oleh Perum Bulog untuk menyiapkan cadangan beras.

Pada bulan Januari hingga Februari 2018, total ada 7,054 hektare lahan yang sudah panen di wilayah Sleman. Wilayah yang menjadi lumbung padi di Sleman tersebar di beberapa kecamatan yakni Kecamatan Minggir, Godean, Berbah dan Kalasan. 

“Hasil panen ini bisa mencukupi hingga setahuan,” katanya.

Sejumlah inovasi juga sudah dilakukan Pemkab Sleman untuk menunjang produksi padi. Di antaranya menggunakan tanam jajar legowo dan mendorong petani menggunakan pupuk organik. Pihaknya memprediksi panen raya akan terjadi pada Maret hingga April 2018. 

Pemkab Sleman berencana menjual beras asli Sleman ke kabupaten dan kota di dalam wilayah DIY. Sementara Dalam jangka panjang, beras akan dijual ke wilayah luar DIY.

“Beras hasil Sleman kualitasnya enggak kalah jauh dari beras Cianjur, karena sama-sama ditanam di lereng pegunungan dan perbukitan. Dalam waktu dekat kami mau coba jual beras Sleman ke aparatur sipil negeri (ASN) di wilayah  Sleman. Baru nanti keluar DIY,” ujarnya.


(ALB)