Keseruan Lomba Ukir yang Diikuti Puluhan Ibu di Jepara

Rhobi Shani    •    Sabtu, 04 Aug 2018 17:27 WIB
hut ri
Keseruan Lomba Ukir yang Diikuti Puluhan Ibu di Jepara
89 ibu-ibu warga Desa Petekeyan, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, mengikuti lomba mengukir, Sabtu, 4 Agustus 2018. Foto: Rhobi Shani.

Jepara: Puluhan ibu-ibu duduk berbaris rapi menghadap meja kayu. Di atas meja, terdapat kayu jati berukuran 20 x 30 centimeter. Begitu terdengar peluit panjang, seketika suasana menjadi riuh.

Suara mata pahat dan palu bersahutan dari Jalan Swasembada Ukir Desa Petekeyan, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Ya, ibu-ibu warga Desa Petekeyan tengah mengikuti lomba mengukir.

Motif ukiran yang dilombakan beragam. Ada motif bunga, kaligrafi, dan motif ulir. Bagi ibu-ibu peserta lomba, mengukir motif-motif tersebut sudah jadi rutinitas sehari-hari.

Marfuah, 50 tahun, peserta lomba, nampak cekatan memegang mata pahat dan palu. Tangan kirinya yang terampil menggerakan pahat mengikuti gambar pola.

Sementara, tangan kanannya nampak kekar memegang palu yang terbuat dari kayu yang berukuran cukup besar. Meski mengenakan pakaian adat Jawa, kebaya, Marfuah mampu menyelesaikan motif bunga dengan halus.

"Sudah dari kecil belajar mengukir. Sejak kelas 5 SD. Dulu belajar mengukir dengan saudar," ujar Marfuah di sela-sela mengukir motif bunga, Sabtu, 4 Agustus 2018.

Sebagai ibu, Marfuah tidak melulu berkutat dengan urusan dapur. Setiap hari, dia membantu suami memenuhi ekonomi keluarga. Sembari mengurus rumah, Marfuah bekerja sambilan sebagai pengukir.

"Hampir sebagian besar ibu-ibu warga desa sini (Petekeyan) bekerja mengukir di kerjakan di rumahnya sendiri-sendiri. Sistemnya borongan ambil ukiran dari pengusaha-pengusaha mebel. Kalau dikerjakan di rumah bisa disambi mengurus keluarga," jelas Marfuah.   

Sementara itu Kepala Desa Petekeyan, Ali nSubchan mengungkapkan, lomba kali ini untuk menegaskan bahwa desa yang dipimpinnya merupakan desa sembada ukir. Selain itu, lomba kali ini untuk menjaga kelestarian seni ukir. Sebab, tak banyak generasi muda yang mau belajar mengukir.

"Biar ukir jangan sampai punah, karena anak-anak muda sekarang lebih memilih bekerja di sektor industri," ungkap Ali.

Ali menambahkan, lomba kali ini diikuti 89 ibu-ibu warga Desa Petekeyan. Ukiran hasil lomba karya ibu-ibu akan dipamerkan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia.


(DEN)