Tanpa Teknologi, Penghasilan Petani Garam tak Bertaji

   •    Kamis, 03 Aug 2017 13:56 WIB
harga garam
Tanpa Teknologi, Penghasilan Petani Garam tak Bertaji
Petani garam dengan teknologi geoisolator. (Media Indonesia/Ahmad Yakub)

Metrotvnews.com, Pati: Mayoritas petani garam di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengolah air laut secara tradisional. Produksi garam sangat menggantungkan pada cuaca.

Salah seorang petambak garam di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Yabu Paidi, mengaku, penghasilan dari tambak garam belum menjamin. Selama ini, harga jual sangat murah.

Tahun lalu, kata dia, di tingkat pengepul harganya cuma Rp300-Rp400 per kilogram. Tak sebanding dengan jerih payahnya. Apalagi, dia masih menanggung biaya sewa lahan setiap dua tahun sebesar Rp20 juta.

"Artinya, setiap bulan harus menghasilkan pemasukan lebih dari Rp800.000 untuk membayar sewanya," ujarnya, seperti dikutip Antara, Kamis, 3 Agustus 2017.

Sementara masa produksi garam, kata Paidi, dalam setahun hanya berlangsung empat bulan. Selebihnya, bertepatan dengan musim hujan. Pada jeda musim, dia menanam padi dan ternak kambing.

Soal harga tinggi garam saat ini, Paidi yakin tak akan bertahan lama. Harga garam sekarang Rp3.000/kg. "Biasanya, saat musim panen stok garam melimpah, harga jual akan kembali turun," ujarnya.

Tak kuat beli

Paidi bukan tidak tahu teknologi yang lebih bagus agar produksi tak bergantung cuaca. Dia tahu plastik pelapis atau geoisolator. Alat itu bisa membuat waktu panen lebih pendek jadi tiga hari. Dengan tanah biasa, sepekan baru bisa panen.

"Harganya Rp2 jutaan untuk satu petak tambak ukuran 16 x 10 meter," timpal Jono, petani lainnya. Dia tidak menggunakan geoisolator karena tak mampu beli.

Kebetulan, kata dia, dirinya tidak termasuk petani yang mendapatkan bantuan geoisolator, seperti halnya petani lain yang sudah mencoba. Lahan satu petak, kata dia, biasanya bisa menghasilkan garam hingga 1 ton lebih, sesuai dengan kondisi cuaca.

"Jika harga jualnya Rp500 per kilogram, baru menghasilkan Rp500.000. Harga jual sekarang penghasilannya bisa mencapai Rp3 juta," ujarnya.

Apabila harga jual garam seperti sekarang tetap bertahan, dia memastikan, tingkat kesejahteraan petani garam akan meningkat, karena penghasilannya selama musim panenh bisa digunakan untuk hidup setahun.

Permasalahannya, lanjut dia, sebagian besar petani garam tidak memiliki lahan. Termasuk dirinya hanya sebagai petani penggarap dengan sistem bagi hasil.

Perlu HET

Ketua Asosiasi Produsen Garam Konsumsi Beryodium (Aprogakob) Pati Budi Satriyono menganggap, peluang petani garam semakin sejahtera sangat terbuka, mengingat kebutuhan bahan baku garam untuk dibuat garam konsumsi sangat tinggi dan petani Pati juga belum mampu mencukupinya.

Adanya teknologi geoisolator, kata dia, patut dicoba. Karena, diklaim mampu meningkatkan produktivitas hasil panen garam.

"Kualitasnya juga lebih bagus, dibandingkan dengan media tanah karena lebih bersih dan lebih putih, sehingga sangat diminati produsen garam konsumsi," ujarnya.

Selain perlu ada teknologi baru dalam pengolahan garam, kata dia, sarana dan prasarana lainnya juga perlu dipersiapkan, seperti saluran air di kawasan tambak garam agar pasokan air juga terpenuhi, sehingga tidak perlu menggunakan mesin penyedot air karena biaya produksinya semakin mahal.

"Pemerintah juga perlu membantu dalam bentuk penentuan harga eceran minimal dan penyerapan garam petani sebagai stok cadangan," ujarnya.


(SAN)