Presiden: Konstitusi Pelindung Kemajemukan

Pythag Kurniati    •    Rabu, 09 Aug 2017 13:17 WIB
mahkamah konstitusi
Presiden: Konstitusi Pelindung Kemajemukan
Presiden Joko Widodo (depan, tengah) berpose dengan para peserta AACC. (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Solo: Sebagai negara majemuk, Indonesia punya pengalaman panjang dalam mengelola keragaman dan perbedaan. Kemajemukan dan keberagaman itu dilindungi oleh konstitusi.

Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo saat membuka Simposium Internasional Asosiasi Mahkamah Konstitusi dan Institusi Sejenis se-Asia (The Association of Asian Constitutional Courts and Equivalent Institutions/AACC) di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Rabu, 9 Agustus 2017.

Indonesia, kata Presiden, memiliki 17 ribu pulau, 34 provinsi, 526 kabupaten dan kota, 714 suku dan lebih dari 1.100 bahasa lokal. Kemajemukan tersebut bukan merupakan sebuah penghalang lantaran Indonesia disatukan oleh cita-cita yang sama.

“Dari pengalaman tersebut, kita melihat pentingnya Pancasila sebagai perekat persatuan dan ideologi bangsa,” imbuh Jokowi.

Presiden menerangkan, memegang teguh konstitusi penting dilakukan untuk memastikan adanya penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak asasi warga negara Indonesia. Menurutnya, dalam keberagaman tersebut, setiap warga memiliki kesamaan kedudukan serta kesetaraan.

Jokowi juga menyebut, negara konstitusi tidak mengenal warga negara kelas satu atau kelas dua. Kesetaraan yang ada membuat hanya ada satu sebutan, Warga Negara Indonesia.

“Pengalaman ini semakin meneguhkan saya bahwa konstitusi menjadi pelindung kemajemukan, pelindung keragaman, baik keragaman pendapat maupun keragaman etnis, budaya, dan agama,” papar Presiden.

Generasi muda

Konstitusi menjadi penjaga agar tidak ada satu kelompok pun yang secara sepihak memaksakan kehendak tanpa menghormati hak warga negara lainnya. Merujuk konstitusi Indonesia, kata Presiden, tidak ada satu pun institusi yang memiliki kekuasaan mutlak, apalagi menyerupai diktator.

“Konstitusi memastikan adanya perimbangan kekuasaan antara lembaga negara dan saling mengontrol. Dengan koridor itu akan terbangun demokrasi yang sehat dan terlembaga,” kata dia.

Presiden menyatakan bahwa tantangan negara dalam berkonstitusi tidaklah mudah. Menurutnya, dunia berubah dengan cepat. Bermunculan tantangan baru seperti radikalisme, terorisme, kejahatan siber dan lain sebagainya. 

“Tantangannya bagaimana semangat konstitusi ini bisa dipahami secara baik oleh generasi muda. Maka peran Mahkamah Konstitusi menjadi sangat penting,” pungkasnya.


(SAN)