Sungai Pemali Brebes Dikeringkan untuk Revitalisasi

Kuntoro Tayubi    •    Jumat, 14 Sep 2018 17:22 WIB
normalisasi sungai
Sungai Pemali Brebes Dikeringkan untuk Revitalisasi
Sungai Pemali di Brebes dikeringkan untuk revitalisasi, Medcom.id - Kuntoro

Brebes: Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juwana, Provinsi Jawa Tengah, tengah merevitalisasi saluran irigasi Sungai Pemali dan saluran induk di Bendung Notog. Sungai tersebut berhulu di Brebes, Jateng. Hingga berita ini dimuat, revitalisasi sungai telah memasuki tahun kedua.

Pengeringan sungai dilakukan dengan mengeruk kedalaman dan memasang beton di pinggir sungai. Dampaknya, kekeringan terjadi di beberapa titik jalur irigasi di enam kecamatan. Di antaranya di Kecamatan Songgom, Larangan, Wanasari, Jatibarang, Brebes, dan Bulakamba. Akibatnya 105 desa di enam kecamatan tersebut terkena dampak pengeringan.

Pengeringan pertama kali dilakukan pada Agustus hingga Desember 2017. Tahun 2018 ini pengeringan kembali dilakukan pada awal Agustus dan direncanakan berlangsung hingga Desember 2018 mendatang.

Perwakilan dari BBWS Pemali-Juwana Agnes Yustika Rini mengatakan proyek tersebut dikerjakan di sembilan kecamatan di Brebes. Biayanya mencapai lebih Rp200 miliar yang anggarannya bersumber pada APBN.

"Ini proyek nasional di saluran irigasi Pemali hilir yang mengakses sembilan kecamatan di Brebes. Nilai proyeknya mencapai Rp200 miliar lebih, ini nantinya akan membantu petani Brebes dalam kesulitan air," kata Agnes melalui sambungan telepon kepada Medcom.id, Jumat, 14 September 2018.


(Bangunan di sepanjang Sungai Pemali Brebes, Medcom.id - Kuntoro)

Proyek dimulai dengan pembongkaran 1.229 bangunan liar di sepanjang kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Pemali Hilir. Sungai Pemali berhulu di Brebes dan mengalir hingga sepanjang 125,4 Km. Bagi masyarakat Brebes, Sungai Pemali berperan sebagai sumber air untuk pertanian. 

Selain itu, perbaikan saluran utama di Bendung Notog menelan biaya kurang lebih Rp100 miliar. Tahap pelaksanaan selama dua tahun dan anggaran juga bersumber dari pemerintah pusat.

"Adanya pemeliharaan atau perbaikan saluran itu, diharapkan suplay air kepada petani akan semaki lancar. Sehingga dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP),” kata Kepala Satuan Kerja (Satker) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juwana, Dyah Perdani.

Saat kemarau, kata Dyah, petani di 105 desa di enam kecamatan terkena dampak. Lahan kering. Sungai Pemali pun mengering padahal aliran airnya dibutuhkan untuk irigasi. Namun demikian, tahun 2018 ini adalah tahun terakhir penggarapan proyek tersebut. Sehingga tahun depan, petani diharapkan bisa mendapatkan sumber air pertanian yang melimpah dari Sungai Pemali.



(RRN)