Proyek Bandara dan Hancurnya Hubungan Sosial Warga

Ahmad Mustaqim    •    Senin, 07 Nov 2016 15:44 WIB
bandara
Proyek Bandara dan Hancurnya Hubungan Sosial Warga
Masterplan bandara baru alias New Yogyakarta International Airport (NYIA). (Metrotvnews.com/bpmpt.kulonprogokab.go.id)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Warga penolak bandara di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, harus menghadapi masalah pelik di lingkungan sosial mereka. Masalah tak hanya dengan orang sekitar, namun juga dengan internal keluarga.

David Yunianto, warga Desa Glagah, Temon, yang juga menolak proyek pembangunan bandara, mengatakan, kehidupan sosial warga penolak bandara dengan yang setuju, sudah tak sehat. Ia menyebut kondisi sosial masyarakat sudah hancur.

"Kehidupan sosial sudah hancur. Beda dengan sebelumnya," kata David di Yogyakarta, Senin (7/11/2016).

Baca: Tolak Bandara, Warga Kulon Progo Datangi Kantor BLH

Ia mencontoh ketika ada hajatan, warga penolak bandara yang tergabung dalam paguyuban Wahana Tri Tunggal (WTT) telah dikucilkan. Misalnya, kata dia, apabila ada anggota WTT yang meninggal, warga lain sudah tak ikut bersosialisasi dan membantu pemakaman.


Pengendara melintas di depan reklame penolakan warga atas proyek bandara di Kulon Progo, DIY. (Ant/Hendra Nurdiansyah)

Saat lebaran kurban lalu, lanjut David, warga WTT yang ikut berkurban juga mendapat perlakuan diskriminasi. Hewan kurban hanya disembelih di masjid tanpa dilakukan pemotongan serta pembagian daging.

"Sekarang sudah dianggap urusan masing-masing. Kebersamaan dan gotong royong pun enggak ada," katanya.

Baca: Warga Kulon Progo: Bikin Bandara Kayak Pemilu

Ia juga mengungkapkan, kerusakan lingkungan sosial tak hanya dengan tetangga, namun juga keluarga. Akibat berbeda pendapat soal proyek pembangunan bandara, hubungan David dengan orangtua jadi renggang.

Showroom mobil

Warga lain yang juga penolak bandara, Andung mengatakan proses pembayaran ganti rugi lahan calon bandara juga berjalan tak baik. Ia mengungkapkan, rencana pendampingan pengelolaan keuangan usai pembayaran ganti rugi lahan tak berjalan.

"Di desa itu banyak dijadikan showroom mobil. Banyak tempat, di balai desa dan sepanjang jalan juga dibuat," katanya.

Andung, bilang, cukup banyak warga penerima ganti rugi yang membelanjakan uang untuk membeli mobil. Bahkan, Andung menyebut ada warga yang membeli mobil jenis Pajero.

"Sepertinya sudah di-planning (Desa) Glagah mau dihancurkan. Sekarang banyak proyek membuat garasi. Tapi kan orang yang semula tani kemudian memegang stir bundar (mobil) tak bisa dipastikan bisa berjalan baik kehidupannya," ungkap Andung.

Baca: Pembangunan Bandara Kulon Progo Banyak Tabrak Aturan

Pendamping warga penolak bandara dari LBH Yogyakarta, Ikhwan Sapta Nugraha menilai dampak sosial tersebut terlihat tak dipertimbangkan dalam proyek pembangunan bandara Kulon Progo. Menurut dia, hal itu seharusnya menjadi salah satu pertimbangan sebelum rencana proses pembangunan berlangsung.

PT Angkasa Pura berencana melanjutkan proses proyek pembangunan bandara baru atau New International Yogyakarta Airport itu dengan studi analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Proses studi Amdal tersebut bakal dilakukan 10 November dengan agenda konsultasi publik.

Kepala Badan Lingkungan Hidup DIY, Joko Wuryantoro mengatakan permasalahan dampak sosial itu bakal disampaikan dalam proses konsultasi publik yang dilakukan komisi Amdal pusat dan PT Angkasa Pura.

"Masalah sosial masuk di dalam dokumen konsultasi publik (studi Amdal)," ucapnya.


(SAN)