Permukiman di Sleman Rawan Diterjang Banjir saat Hujan

Patricia Vicka    •    Senin, 20 Nov 2017 16:17 WIB
cuaca ekstrem
Permukiman di Sleman Rawan Diterjang Banjir saat Hujan
Ilustrasi banjir yang menerjang kawasan permukiman di Kabupaten Sleman, Jawa Tengah. Foto: Metrotvnews.com / Patricia Vicka

Yogyakarta: Sejumlah kawasan permukiman warga di Kabupaten Sleman rawan diterjang banjir saat musim hujan tiba. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman memprediksi tahun ini sejumlah genangan air kembali akan muncul di beberapa permukiman saat puncak musim hujan tiba.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan menerangkan, Kabupaten Sleman yang terletak di dataran tinggi seharusnya bebas dari banjir. Namun alih fungsi lahan dari lahan resapan air hujan menjadi kawasan beton beraspal perumahan menyebabkan air setinggi lebih dari 50 cm kerap muncul.

"Selain itu drainase yang ada juga enggak sepadan dengan limpasan air hujan yang turun. Jadi aliran air hujan meluber ke jalan,” ujar Makwan melalui sambungan telepon di Yogyakarta, Senin, 20 November 2017.

Genangan air dan banjir paling banyak berpotensi muncul di permukiman di sekitar Ambarukmo, Caturtunggal, dan kawasan UGM serta UNY, Kecamatan Depok. Selain itu daerah Jombor, Kecamatan Mlati, juga kerap diserbu genangan.

Hingga kini pihaknya belum menerima laporan munculnya banjir atau genangan air di kedua kecamatan tersebut. Namun pihaknya sudah berkordinasi dengan Dinas Pekerja Umum jauh-jauh hari untuk segera memperbaiki dan mengganti drainase yang ada.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD SLeman Joko Supriyanto menyebut kawasan sekitar aliran sungai kerap kebanjiran. Sampah yang menumpuk menjadi salah satu penyebab air sungai meluap ke rumah warga atau jalanan yang berada di pinggir sungai.

Pihaknya telah melakukan susur sungai dan bersih-bersih sampah bersama komunitas warga sebelum masuk ke musim hujan.

"Kami sudah petakan beberapa tiitk di empat sungai yang mengalir di Sleman banyak sampah. Sungai yang kami susuri ada Winongo, Sungai Buntung, Gajah Wong dan Opak. Kami sudah minta warga bersihkan sampahnya," pungkas Joko.

BMKG DIY memprediksi puncak musim hujan di DIY akan terjadi pada Januari-Februari 2018. Selama dua bulan tersebut, curah hujan diprediksi mencapai 400 hingga 550 mm perbulan.


(SUR)