Keroncong juga Boleh Joget

Pythag Kurniati    •    Senin, 16 May 2016 12:11 WIB
musik keroncong
Keroncong juga Boleh Joget
Orkes Sinten Remen di Solo Keroncong Festival 2016, Solo, Jateng, Minggu (15/5/2016). (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com. Solo: Djaduk Ferianto, pentolan grup musik Orkes Sinten Remen mematahkan anggapan penikmat keroncong hanya bisa duduk takzim di kursi. Terbukti, Minggu malam 15 Mei 2016, ajang Solo Keroncong Festival 2016, di Benteng Vastenburg, Solo, Jawa Tengah, tak ubahnya konser musik rock atau bahkan dangdut.

Ojo kalem-kalem (Jangan terlalu diam). Keroncong juga boleh joget. Ayo semuanya berdiri,” teriak Djaduk saat akan membawakan keroncong kreasi lagu Hitam Manis. Ratusan orang berdiri dan menggerakkan badan seirama paduan cak, cuk, cello, flute dan perkursi. Tak jauh beda, lagu Kepompong dari Sindentosca yang dibawakan Orkes Sinten Remen pun menggoyang para kawula muda.


Aksi panggung pentolan Orkes Sinten Remen, Djaduk Ferianto di Solo Keroncong Festival 2016. (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Dalam Solo Keroncong Festival 2016 Djaduk dan Orkes Sinten Remen membawakan delapan lagu. Beberapa di antaranya, berbahasa Belanda. Djaduk juga menghadirkan lagu berjudul Omong Doang sebagai sindiran pada para penguasa. Semuanya dibawakan dengan musikalitas kaya instrumen tanpa menepikan cita rasa keroncong.

Saat hendak undur diri, penonton menahan Orkes Sinten Remen, memintanya kembali menyanyi. “Oke, saya kasih satu lagu lagi. Tapi janji lho, ya, kalian anak-anak muda setelah ini harus terus mencintai keroncong,” ujar Djaduk yang disambut dengan tepukan riuh anak-anak muda Kota Solo. Djaduk juga menantang anak-anak muda di Solo membuat keroncong dengan interpretasi baru tanpa rasa bimbang.

“Menarik, bahwa keroncong kembali hidup dan mendekat kembali pada publiknya. Tinggal bagaimana senimannya untuk lebih giat lagi menangkap peluang supaya tidak terlena persoalan berorganisasi,” komentar Djaduk optimistis.


(SAN)