Langka & Istimewa, Padang Pasir Bantul Harus Dilindungi

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 14 Oct 2016 11:42 WIB
lingkungan
Langka & Istimewa, Padang Pasir Bantul Harus Dilindungi
Wisatawan bermain sandboarding (papan seluncur) di Gumuk Pasir Barchan, Parangkusumo, Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (12/7/2016). Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah

Metrotvnews.com, Bantul: Gumuk pasir atau padang pasir di Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi fenomena alam langka dan harus dilindungi. Sebab, keberadaannya mulai tergerus akibat sejumlah aktivitas manusia.

Ketua Umum Komunitas Save Our Sand Dunes Lives (SOSDL), Budi Anto menjelaskan gumuk pasir di Bantul yang memiliki zona inti seluas 141,1 hektare itu ditetapkan sebagai lahan konservasi setelah dibentuknya Parangtritis Geomaritim Science Park pada 11 September 2015. Menurutnya, keberadaan gumuk pasir di Bantul dan di Indonesia merupakan hal istimewa.

"Istimewanya apa? Gumuk pasir atau yang biasa disebut gurun pasir di Indonesia terjadi di negara bukan subtropis. Pada hal negara lain tidak," ujar Budi kepada Metrotvnews.com, Jumat (14/10/2016).

Ada sejumlah negara yang juga memiliki gumuk pasir, seperti Prancis, Swiss, Turki, Tiongkok, Arab Saudi, dan Meksiko. Namun, ada tipe gumuk pasir yang langka dan hanya didapati di dua negara, Indonesia dan Meksiko; yakni gumuk pasir tipe bulan sabit atau barkhan.

"Sayangnya, gumuk pasir tipe bulan sabit di Bantul ini sudah hilang beberapa tahun lalu. Hal ini disebabkan aktivitas manusia di zona inti gumuk pasir sejak 2008," kata dia.

Selain gumuk pasir tipe bulan sabit, ada sejumlah tipe lain yang masih ada di Bantul. Di antaranya, tipe sisir, longitudinal, dan parabolic.



Menurut dia, keberadaan aktivitas manusia di kawasan zona inti gumuk pasir secara tak langsung ikut mendesak perkembangannya secara alami. Sejumlah aktivitas manusia yang masih ada di zona inti gumuk pasir di Bantul yakni adanya pohon cemara udang yang telah ditanam, maraknya hunian, pertanian, hingga tambak udang.

"Tipe-tipe gumuk pasir ini pengembangannya tergantung alam yang membentuk. Gumuk pasir tipe bulan sabit akan terbentuk kembali jika kondisi alamnya memungkinkan," kata dia.

Saat ini, polemik warga yang menempati zona inti gumuk pasir dengan Pemerintah Kabupaten Bantul masih berjalan. Masih ada sejumlah warga yang tetap menolak membongkar bangunannya.


Salah satu sisi zona Gumuk Pasir yang menjadi kawasan wisata. Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim

Di kawasan zona inti gumuk pasir diperkirakan ada 38 bangunan rumah yang terdiri dari 20 kepala keluarga, 25 kandang, sawah, warung, dan tempat parkir.

Dengan kondisi tersebut, Budi menilai pemerintah harus bisa mencari solusi yang tepat. Mulai dari merencanakan program dengan baik, hingga memberikan ganti rugi kepada warga yang menempati zona inti.

"Warga yang berada di zona inti (gumuk pasir) kan melalui proses panjang. Harus ada perencanaan matang dari pemerintah jika akan menata. Masyarakat juga harus bisa legawa," jelasnya.


(UWA)