Jelang Iduladha, Masyarakat Diminta Waspadai Sapi Pemakan Sampah

Pythag Kurniati    •    Selasa, 29 Aug 2017 15:19 WIB
iduladha 2017
Jelang Iduladha, Masyarakat Diminta Waspadai Sapi Pemakan Sampah
Sapi pemakan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo

Metrotvnews.com, Solo: Jelang hari raya Iduladha, masyarakat diimbau untuk mewaspadai sapi pemakan sampah. Sebab menurut penelitian, sapi pemakan sampah memiliki kandungan timbal (Pb) di atas ambang batas.

“Hasil pengujian, kandungan timbal pada daging sapi pemakan sampah masih melebihi ambang batas yang ditentukan,” kata Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Solo, Pranoto, Selasa, 29 Agustus 2017. Ia melakukan penelitian uji daging dengan AAS (Atomic Absorbtion Spectophotometry di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo.

Kadar maksimum kandungan timbal dalam daging olahan seharusnya adalah 1,0 part per million (ppm). Aturan tersebut merujuk Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor HK 00.06.1.52.4011 tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Kimia dalam Makanan.

Namun pada daging sapi pemakan sampah, kandungan timbal mencapai 1,4 hingga 1,7 ppm. “Itu jika yang dimakan adalah sampah baru,” kata dia.


Penelitian uji kandungan timbal pada daging sapi pemakan sampah di UNS, Selasa, 29 Agustus 2017

Sedangkan untuk sapi pemakan sampah lama yang sudah bercampur dengan tanah, kandungan timbal dalam dagingnya cukup mengejutkan. “Bisa mencapai 17 ppm,” imbuh Pranoto.

Tingginya kandungan timbal ini tentu saja berbahaya bila dikonsumsi. Efek samping yang ditimbulkan bila mengkonsumsi yakni sakit kepala, cepat marah, sakit perut, muntah, anemia, berat badan tidak normal, susah konsentrasi.

“Yang paling parah, bisa memicu kanker,” paparnya.

Dikarantina

Pranoto menambahkan, sapi-sapi pemakan sampah harus terlebih dahulu dikarantina selama tiga bulan sebelum dijadikan hewan kurban. “Diberi makan dan minuman yang baik dan bebas logam,” paparnya.

Ditemui terpisah, Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertan KPP) Kota Solo Weni Ekayanti telah memperingatkan pemilik sapi mengkarantina sapi pemakan sampah sebelum dikurbankan. “Malah kami mewajibkan karantina selama enam bulan,” jelas dia.

Dinas mengaku terus melakukan pengawasan ketat terkait sapi pemakan sampah, khususnya di Kota Solo. Pemeriksaan salah satunya dilakukan lewat pengecekan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).


Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertan KPP) Kota Solo Weni Ekayanti

Selain itu, lanjutnya, masyarakat pun dapat membedakan secara fisik sapi pemakan sampah dengan sapi lainnya. “Sapi pemakan sampah memiliki feses berwarna lebih hitam dari sapi kebanyakan,” papar dia.


(ALB)