Kemarau, Petani Cabai di Pemalang Gagal Panen

Kuntoro Tayubi    •    Senin, 18 Sep 2017 17:28 WIB
kemarau dan kekeringan
Kemarau, Petani Cabai di Pemalang Gagal Panen
Sumarmo, petani asal Desa Pagenteran, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sedang memanen cabai. (Metrotvnmews.com/Kuntoro Tayubi)

Metrotvnews.com, Pemalang: Petani sayuran di lereng Gunung Slamet, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, mengalami gagal panen. Musim kemarau sejak tiga bulan terakhir membuat tanaman cabai dan kobis mengering.
 
“Karena kering, tanaman cabai milik kami tidak bisa dipanen. Kerugian mencapai hingga 50 persen dari modal yang kami keluarkan,” kata salah satu petani sayuran, Sumarmo, Senin, 18 September 2017, di Desa Pagenteran.
 
Ia menjelaskan, dalam satu hektar lahan, ia harus mengeluarkan modal untuk membeli bibit dan biaya produksi sebesar Rp70 juta. Namun akibat kekeringan, hasil panen tidak dapat maksimal.
 
Dari luas lahan yang ditanam ia hanya mampu mendapatkan Rp35 juta. Padahal dalam kondisi normal, satu hektar lahan dapat menghasilkan tanaman cabai hingga sebanyak 20 ton.
 
Namun, akibat kekeringan, dalam satu hektar lahan hanya menghasilkan 7 hingga 10 ton cabai. "Untuk menutup biaya produksi saja masih kurang. Karena cabai yang dihasilkan juga berkurang hingga 50 persen," tambahnya.
 
Hal yang sama dirasakan petani asal Desa Clekatakan, Sutrisno. Selain cabai, tanaman kobis miliknya juga mengalami gagal panen. Karena kualitas tanaman yang tidak maksimal.
 
"Kobis hasil panennya kurang maksimal akibat kekeringan. Kadar air yang ada ditanah dan teriknya cuaca yang jadi salah satu faktor penyebabnya," kata Sutrisno.
 
Selain hasil tanaman yang menurun, harga cabai dank kobis di tingkat petani pun anjlok.  Seharusnya cabai mahal saat musim kemarau, tapi saat ini malah anjlok hingga Rp7000/kg dari biasanya Rp15 ribu/kg.
 
“Sedangkan kobis, yang biasanya Rp4000/kg, saat ini cuma laku Rp 1000/kg. Jelas kami merugi," pungkasnya.


(ALB)